"Oi Tek Nun, kalau nulis judul yang bener, ntar lo di hajar netijen lho," sorak pena merah tanpa kepala dari atas meja.
Aku yang sedang diguyur semangat 45 untuk menulis terus saja menuang teko kata ke dalam cawan hingga menjadi beberapa cawan kata. Setelah satu dua cawan terisi, barulah aku menanggapi ucapan si pena merah.
"Kenapa dengan judul tulisanku, ada yang salah?" tanyaku lembut.
"Iyo!" jawabnya singkat dengan nada marah.
"Kok salah? Di mana letak salahnya?"
"Di jari dan di hatimu!"
Melihat ekspresinya yang over serius, terpaksalah aku menanggapi jawaban si pena merah tanpa kepala itu dengan senyuman paliang kamek. Tujuannya agar level kemarahannya bisa berkurang.
Setelah itu, aku mengajaknya untuk kembali ke masa lalu nan sudah berpuluh-puluh tahun ditinggalkan. Lebih tepatnya ke masa kanak-kanak.
"Sini kita duduk dan bercerita masa kecil sejenak. Biar hidupmu tidak melulu bergelut masalah," ucapku tenang.
Si pena merah menatapku sejenak. Melihat aku tersenyum seperti senyum seseorang yang baru saja berbuka puasa, sikapnya mulai melunak.
"Kamu pernah kecil ggak?" tanyaku pelan.
"Mana ada, aku lahir kan langsung dewasa."
"Oh, iya. Aku lupa. Kamu kan benda mati."
"Kenapa kamu nanya-nanya masa kecil? Masa kecilmu kurang bahagia ya?" ucapnya sambil memainkan telunjuknya di depan wajahku
"Hmmm, jawab nggak ya?"
"Begini ...!"
Akhirnya, aku bercerita masa kecil yang tentu ada hubungannya dengan pena merah dan kejujuran. Seperti judul tulisan ini. Kejujuran itu hukuman.
"Lanjutlah," ucap si pena merah antusias.
Dulu, saat dirimu digunakan untuk memonten hasil belajarku, jiwa kejujuranku sering terancam lo.
"Emang kenapa? Kamu acok dapek ponten 5 ya," tanya si pena merah.
"Acok bana indak, sakali sahari!" 😂
"Tu acok namonyo tu karambie!"
He he he...!
"Tau ndak? Ponten 5 tu asal muasal kejujuran adalah hukuman!"
"Maksudnya?"
"Bencana, woy, bencana!"
Mendengar suaraku bak kaleng rempeyek kosong ditabok, si pena merah tampak berpikir sejenak. Lalu kembali serius mendengarkan ceritaku.
Gara-gara kamu dulu, aku sering menyingkirkan kejujuran.
Saat ponten tikmatik aku angko 5, mana berani aku memperlihatkan ke orang tua. Terutama ke mamak. Bisa-bisa jadi abu tu buku.
Saat dapek ponten angko limo, baik pakai pena merah, biru, atau hitam dipastikan lembaran buku yang sehelai tu tidak akan sampai ke rumah.
Kenapa?
Karena sudah merupakan kebiasaan bagi mamakku memeriksa hasil belajar anak-anaknya sepulang sekolah. Kalau tidak sempat siang/ sore, malam setelah magrib pasti mamak menggeledah tas anak-anaknya. Jika ditemukan ponten angka 5 ke bawah, sudah dipastikan duniaku sedang tidak baik-baik saja.
Siap-siap saja kena ceramah 2x24 jam bahkan lebih. Mulai dari sanjo hari sampai senja esoknya lagi. Karena menururtku emak-emak adalah ahli sejarah paling paten.
Ia akan mengingat semua kesalahan kita dari seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, bahkan setahun yang lalu. Tentunya semua kesalahan itu akan dikaitkan dengan ponten 5 tadi.
"Mako e ndak main kamain se karajo kau do. Baraja! Lai tadanga di pangka turiak kau tu!"
"Makoe jan manonton ka manonton juo, palajaran nan ka diparatian. (Padahal dulu manonton ka rumah tetangga.) 😄
"Pulang sakola, batang aie nan kau cari, indak palajaran nan ba ulang do!"
Entah apa hubungan main, manonton, mandi jo ponten 5 tadi. Pokok e kanai buransang dulu. Nyambung ndak nyambung beko diagak i. Begitu orang tua dulu mendidik anak-anaknya.
Bacakak atau bagaluik di sekolah/di surau pun sama halnya. Jangan pernah ngadu dan jujur dengan apa yang terjadi. Suara kita dibungkam untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
Berani berbicara, siap menerima hukuman. 😂
Apakah fenomena ketidakjujuran urang-urang gadang hari ini berakar berurat dari kejadian masa kecil?
Jawab di kolom komentar! 😄
Bukittinggi, 23 Febriari 2026
#menulisituasyik
#menulisituekspresidiri
#menulisitumenyembuhkan
