Selasa, 24 Februari 2026

𝗝𝘂𝗷𝘂𝗿 𝗶𝘁𝘂 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺𝗮𝗻


"Oi Tek Nun, kalau nulis judul yang bener, ntar lo di hajar netijen lho," sorak pena merah tanpa kepala dari atas meja.

Aku yang sedang diguyur semangat 45 untuk menulis terus saja menuang teko kata ke dalam cawan hingga menjadi beberapa cawan kata. Setelah satu dua cawan terisi, barulah aku menanggapi ucapan si pena merah.

"Kenapa dengan judul tulisanku, ada yang salah?" tanyaku lembut.

"Iyo!" jawabnya singkat dengan nada marah.

"Kok salah? Di mana letak salahnya?"

"Di jari dan di hatimu!" 

Melihat ekspresinya yang over serius, terpaksalah aku menanggapi jawaban si pena merah tanpa kepala itu dengan senyuman paliang kamek. Tujuannya agar level kemarahannya bisa berkurang. 

Setelah itu, aku mengajaknya untuk kembali ke masa lalu nan sudah berpuluh-puluh tahun ditinggalkan. Lebih tepatnya ke masa kanak-kanak.

"Sini kita duduk dan bercerita masa kecil sejenak. Biar hidupmu tidak melulu bergelut masalah," ucapku tenang.

Si pena merah menatapku sejenak. Melihat aku tersenyum seperti senyum seseorang yang baru saja berbuka puasa, sikapnya mulai melunak.

"Kamu pernah kecil ggak?" tanyaku pelan.

"Mana ada, aku lahir kan langsung dewasa."

"Oh, iya. Aku lupa. Kamu kan benda mati."

"Kenapa kamu nanya-nanya masa kecil? Masa kecilmu kurang bahagia ya?" ucapnya sambil memainkan telunjuknya di depan wajahku

"Hmmm, jawab nggak ya?"

"Begini ...!"

Akhirnya, aku bercerita masa kecil  yang tentu ada hubungannya dengan pena merah dan kejujuran. Seperti judul tulisan ini. Kejujuran itu hukuman.

"Lanjutlah," ucap si pena merah antusias.

Dulu, saat dirimu digunakan untuk memonten hasil belajarku, jiwa kejujuranku sering terancam lo.

"Emang kenapa? Kamu acok dapek ponten 5 ya," tanya si pena merah.

"Acok bana indak, sakali sahari!" 😂

"Tu acok namonyo tu karambie!"

He he he...!

"Tau ndak? Ponten 5 tu asal muasal kejujuran adalah hukuman!"

"Maksudnya?"

"Bencana, woy, bencana!"

Mendengar suaraku bak kaleng rempeyek kosong ditabok, si pena merah tampak berpikir sejenak. Lalu kembali serius mendengarkan ceritaku.

Gara-gara kamu dulu, aku sering menyingkirkan kejujuran.

Saat ponten tikmatik aku angko 5, mana berani aku memperlihatkan ke orang tua. Terutama ke mamak. Bisa-bisa jadi abu tu buku.

Saat dapek ponten angko limo, baik pakai pena merah, biru, atau hitam dipastikan lembaran buku yang sehelai tu tidak akan sampai ke rumah.

Kenapa?

Karena sudah merupakan kebiasaan bagi mamakku memeriksa hasil belajar anak-anaknya sepulang sekolah. Kalau tidak sempat siang/ sore, malam setelah magrib pasti mamak menggeledah tas anak-anaknya. Jika ditemukan ponten angka 5 ke bawah, sudah dipastikan duniaku sedang tidak baik-baik saja.

Siap-siap saja kena ceramah 2x24 jam bahkan lebih. Mulai dari sanjo hari sampai senja esoknya lagi. Karena menururtku emak-emak adalah ahli sejarah paling paten

Ia akan mengingat semua kesalahan kita dari seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, bahkan setahun yang lalu. Tentunya semua kesalahan itu akan dikaitkan dengan ponten 5 tadi.

"Mako e ndak main kamain se karajo kau do. Baraja! Lai tadanga di pangka turiak kau tu!"

"Makoe jan manonton ka manonton juo, palajaran nan ka diparatian. (Padahal dulu manonton ka rumah tetangga.) 😄

"Pulang sakola, batang aie nan kau cari, indak palajaran nan ba ulang do!"

Entah apa hubungan main, manonton, mandi jo ponten 5 tadi. Pokok e kanai buransang dulu. Nyambung ndak nyambung beko diagak i. Begitu orang tua dulu mendidik anak-anaknya.

Bacakak atau bagaluik di sekolah/di surau pun sama halnya. Jangan pernah ngadu dan jujur dengan apa yang terjadi. Suara kita dibungkam untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya. 

Berani berbicara, siap menerima hukuman. 😂

Apakah fenomena ketidakjujuran urang-urang gadang hari ini berakar berurat dari kejadian masa kecil?

Jawab di kolom komentar! 😄


Bukittinggi, 23 Febriari 2026

#menulisituasyik 

#menulisituekspresidiri 

#menulisitumenyembuhkan

Jumat, 21 Juli 2023

 


Best Practices

 

Pelaksanaan Pembelajaran Teks Persuasi Berbasis Proyek (PjBL) dan Pemanfaatan Aplikasi Canva untuk Meningkatkan Motivasi dan Kreativitas Peserta Didik

 

 

Tujuan:

Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menulis teks persuasi dalam bentuk poster dengan pemanfaatan aplikasi canva.

 

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah:

Berdasarkan observasi dan wawancara dari pihak guru dan peserta didik, terdapat beberapa permasalahan dalam proses pembelajaran menulis teks persuasi di kelas Fase F MAN 1 Kota Bukittinggi.

1.    Peserta didik belum mahir menggunakan aplikasi canva.

2.    Peserta didik kurang mampu mengeksplorasikan potensi yang ada dalam diri mereka dalam mendesain poster.

3.    Beberapa siswa tidak memiliki kuota internet sehingga tidak bisa menggunakan aplikasi canva untuk membuat poster.

 

Pentingnya Praktik dibagikan

Dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat dan juga media pembelajaran yang kreatif dan inovatif dapat meningkatkan motivasi belajar dan kreatifitas peserta didik melalui penerapan model pembelajaran project based learning berbantuan canva, dapat dijadikan sebagai acuan bagi pendidik lain untuk berkarya dan berinovasi menjadi lebih baik lagi dalam menghadapi permasalahan yang sama atau mempunyai permasalahan lainnya.

 

Peran dan tanggung jawab guru

1.    Menyusun Modul inovatif untuk digunakan dalam proses pembelajaran yang dilengkapi dengan bahan ajar, media pembelajaran berupa gambar yang berkaitan dengan materi ajar, LKPD, dan penilaian, baik itu penilaian sikap, penilaian pengetahuan maupun penilaian keterampilan.

2.    Melaksanakan proses pembelajaran di kelas sesuai dengan modul yang telah disusun.

 

Tantangan untuk mencapai tujuan

1.    Guru kurang terampil dalam menerapkan model pembelajaran inovatif yang disesuaikan dengan materi ajar

2.    Guru masih mempertahankan gaya mengajar yang lama yaitu mengajar dengan menggunakan metode konvensional saat pembelajaran di kelas.

3.    Pembelajaran dalam kelas terkesan hanya itu itu saja sehingga menyebabkan timbulnya masalah rendahnya motivasi belajar dan kreatifitas peserta didik dalam pembelajaran.

 

Yang terlibat pada PPL yaitu:

1.    Dosen pembimbing dan guru pamong yang telah membimbing dan menguatkan selama proses penyusunan modul sampai aksi nyata di kelas.

2.    Kepala MAN 1 Kota Bukittingggi selaku penanggup jawab di sekolah.

3.    Rekan sesama guru MAN 1 Kota Bukittinggi yang bersedia membagi ilmu dan pengalaman tentang model, media dan metode pembelajaran, serta dengan ikhlas membantu kelancaran kegiatan ini.

4.    Saya sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan fasilitator dalam kegiatan ini.

5.    Peserta didik Fase F yang terlibat langsung pada kegiatan ini sebagai sasaran utama.

6.    Tim Kameramen yang terlbat dalam pengambilan video dan pengambilan gambar selama PBM berlangsung hingga selesai.

 

Strategi yang digunakan:

Penerapan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan canva untuk meningkatkan motivasi belajar dan kreatifitas peserta didik dalam pembelajaran pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

Hal ini diperkuat oleh Muh. Rais (2010), bahwa penerapan project    based-learning dalam proses  belajar  mengajar  menjadi  sangat  penting untuk    meningkatkan    kemampuan    peserta didik dalam   berfikir   secara   kritis   dan   memberi   rasa kemandirian  dalam  belajar.  Sebagai  suatu  pem-belajaran    yang    konstruktivis, project    based-learning menyediakan  pembelajaran  dalam  situasi problem   yang   nyata   bagi   peserta didik   sehingga dapat    melahirkan    pengetahuan    yang    bersifat permanen.

Model pembelajaran Project-Based Learning yang diimplementasikan dengan pemanfaatan aplikasi Canva mampu meningkatkan kreativitas siswa mendesain iklan, slogan dan poster dengan sangat kreatif  (Fitrai Zulhandayani; 2023).  Siswa mampu meningkatkan kreativitasnya dalam mendesain iklan, slogan dan poster dengan maksimal. Hal ini memberikan pembelajaran yang menyenangkan kepada peserta didik secara menyeluruh  dan mendapatkan hasil yang sesuai yang diharapkan.

Selanjutnya, (Nurhidayah, Wibowo, & Astra, 2021) mengatakan bahwa pembelajaran dengan model Project-Based Learning (PjBL) berbasis Canva ini mampu menjadi upaya peningkatan kemampuan siswa dalam menyusun teks iklan, slogan dan poster dengan kreatif. Selain itu, Canva menjadi salah satu aplikasi yang paling dekat dengan peserta didik karena gawai adalah salah satu perangkat yang paling sering digunakan oleh peserta didik.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut  adalah sebagai berikut:

 

1.Menayangkan media pembelajaran berupa gambar yang dapat membantu peserta didik berpikir kritis dan kreatif.

2.Menuntun peserta didik dengan sabar dalam menggunakan aplikasi canva.

3.Menuntun peserta didik dalam perencanaan project secara berkelompok untuk menghasil gagasan baru yang bisa menghasilkan suatu produk berupa desain poster yang original.

4.Memastikan semua peserta didik bekerjasama dalam kelompok.

5.Menuntun peserta didik mempresentasikan hasil kerja mereka dengan penuh rasa percaya diri dan memamerkan karya mereka ke kelompok yang lain.

 

Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan ini:

1.    Guru sebagai fasilitator dalam kegiatan ini.

2.    Peserta didik sebagai sasaran utama dalam kegiatan ini.

 

Sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini:

 

1.Canva

2.Menyiapkan media pembelajaran yang berkaitan dengan materi pelajaran berupa teks persuasi dan contoh poster

 

Dampak

Dampak yang timbul setelah dilaksanakan PPL dengan menggunakan Metode PjBL dengan menggunakan Aplikasi Canva pada hari Jumat,16 Juni 2023 di MAN 1 Kota Bukittinggi

 

1. Peserta didik lebih bersemangat dan antusiasme serta memiliki motivasi belajar yang tinggi dalam proses pembelajaran.

 

 

 

2. Peserta didik menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan sebuah poster yang baru dengan tidak mencontoh dari internet.

 

 

 

3. Menambah pengetahuan peserta didik dengan mempelajari sesuatu yang baru bagi mereka yakni aplikasi canva.

 

 

 

 

 

4. Meningkatnya motivasi belajar peserta didik dalam pembelajaran.

 

 

 

5.   Meningkatnya kreatifitas peserta didik dan kerja sama dalam kelompok.

 

 

 

Hasil dari kegiatan ini:

 

Hasilnya sangat efektif karena dengan menggunakan model pembelajaran project based learning berbantuan canva, peserta didik berhasil mendesain sebuah poster yang benar-benar merupakan karya mereka sendiri dan meningkatkan kreatifitas peserta didik yang membuat mereka percaya diri dan semakin termotifasi untuk belajar.

 

Respon orang lain terhadap strategi ini:

Banyak respon positif baik dari peserta didik itu sendiri maupun dari rekan kerja yang saya terima dalam menerapkan model pembelajaran project based learning berbantuan canva untuk meningkatkan motovasi belajar dan kreatifitas peserta didik. Mereka menyukai ide menggunakan aplikasi canva dalam proses pembelajaran untuk menghasilkan suatu produk dan bisa digunakan dalam pembelajaran.

 

Berikut polling yang diberikan kepada peserta didik juga mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan. Ini dapat di lihat dari foto berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Faktor keberhasilan dari kegiatan ini :

 

Dengan dukungan yang luar biasa dari semua pihak yang terkait dan rekan kerja, kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran project based learning berbantuan canva untuk meningkatkan motivasi belajar dan kreatifitas peserta didik dapat berjalan dengan baik. Proses ini dibuktikan dengan meningkatnya motivasi belajar dan kreatifitas peserta didik sehingga mereka mampu menghasilkan sebuah produk yakni poster yang mereka desain sendiri.

 

Pembelajaran dari keseluruhan proses ini:

       Dari keseluruhan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, penulis memperoleh pembelajaran yang sangat bermanfaat. Pertama, menambah pengetahuan tentang model-model pembelajaran inovatif dan pengalaman luar biasa dengan menerapkan model pembelajaran project based learning berbantuan canva untuk meningkatkan motivasi belajar dan kreatifitas peserta didik. Kedua, terlaksananya pembelajaran di kelas yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Referensi

 

 

Muh.Rais. (2010). Model Project Based Learning sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Akademik Mahasiswa. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 43 (3), hlm. 246-252.

Nurhidayah, I. J., Wibowo, F. C., & Astra, I. M. (2021). Project-Based Learning (PjBL) Learning Model in Science Learning: Literature Review. Journal of Physics: Conference Series, 20(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/2019/1/012043

Zulhandayani, Fitri. 2023. Canva sebagai Media Peningkatan Kreativitas Mendesain Iklan Slogan dan Poster pada Model PjBL. Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial. Volume 07 No 01.

Sabtu, 20 Februari 2021

Ingat- ingat Lupa





Ingat-ingat Lupa
By Tek Nun

"Salah itu, Tek Nun, bukan itu" sorak Upiak Banun.

"Apanya yang salah?"

"Judul tulisanmu."

Mendengar suara Upiak Banun yang cemprengnya semakin naik level, Tek Nun langsung melempar bola matanya ke atas untuk melihat judul yang barusan dibuatnya. Kemudian mempreteli kata demi kata. Lirik kiri, lirik kanan, maju mundur cantik ala Tek Nun. Bukan ala Syahrini. Tapi tak jua ditemukan kesalahan yang dimaksud Upiak Banun.

Bola mata mulai lelah. Tangan dan kaki ritmenya sudah menurun. Tak mau diajak lagi berkolabirasi. Tek Nun berhenti sejenak. Dengan tujuan untuk melepas lelah bukan untuk menyerah. 

Ingat ya, Sobat. Untuk melepas lelah, bukan untuk menyerah!

Ting!

Kemudian, kembali melanjutkan pemeriksaan. Kali ini dengan menghadirkan KBBI. Agar punya kekuatan secara harfiah. Namun, setelah beberapa saat melakukan pemeriksaan, kesalahan yang dimaksud Upiak Banun tak jua ditemukan. 

"Upiak Banuuuuuun," sorak Tek Nun dengan suara seksinya. 

"Manggilnya bisa dengan suara lembut nggak?"

"Ini kan udah dengan lembut memanggilnya."

"Lembut apaan," ucap Upiak Banun sambil mengusap- ngusap telinganya dengan telapak tangan.

"Iya deh, maaf."

"O iya, apanya yang salah dari judul tulisanku. Kamu jangan mengada-ngada, deh," ucap Tek Nun mulai protes. 

"Kau baca ulanglah itu tulisanmu. Kalau nulis itu jangan asal nulis. Baca lagi baca baca," Upiak Banun mulai nyorocos.

"Udah dibaca ulang. Tapi tak ditemukan dimana salahnya."

Upiak Banun beraksi. Ia ambil hp dari tangan Tek Nun kemudian ia hentakkan jari telunjukknya beberapa kali ke layar hp Tek Nun. Tepat di judul tulisan yang dimaksud.

"Ini, ini, apaan ini yang dikatakan ggak ada salah." Sambil telunjukknya tak henti-hentinya menghantam layar hp Tek Nun.

"Pelan-pelan woiii, itu hp bukan tembok," ucap Tek Nun sambil merampas hpnya dari tangan Upiak Banun.

"Mata itu dipakai untuk melihat kesalahan sendiri bukan mengintip kesalahan orang lain."

Tung
Tang

"Iya i ya."

"Coba pasang telingamu baik-baik. Biar aku kasih tau dimana letak salahnya."

"Iya. Oke," ucap Tek Nun manut.

Upiak Banun mengarahkan pandangannya pada layar hp yang masih ada di genggaman, Tek Nun. Kemudian membaca perlahan-lahan judul tulisannya.

"Ingat-ingat lupa. Ingat-ingat lupa."

"Ada dengar?"

"Ada. Cuma dimana letak salahnya?"

"Duh, kenapa lelet begini nih, orang," batin Upiak Banun.

Maka, mulailah Upiak Banun menjelaskan duduk persoalnnya. Dimana letak salahnya menurut dia. Tapi belum tentu menurut Tek Nun. Ternyata, Upiak Banun kurang setuju judul tulisanTek Nun, "Ingat-ingat lupa." Tapi ...

"Tapi apa maksudmu?" Tanya Tek Nun.

"Ya. Biasanya kan "Lupa-lupa ingat, bukan "Ingat-ingat lupa."

Nah, ini dia yang ingin aku ubah coy. Coba perhatikan kata demi kata. Kalau lupa-lupa ingat, itu artinya banyak lupanya daripada ingatnya. Bandingakan dengan judul yang aku tulis.

"Ingat-ingat lupa. Berarti banyak ingatnya daripada lupa. Iya apa iya?"

"Iya juga ya," ucap Upiak Banun sambil menempelkan jari telunjuknya di sisi kanan kepalanya.

Makanya, mata jangan buat ngintip kesalahan orang aja. Sesekalai ajak jalan-jalan. Ha ha ha...

Mata adalah jendela hati dan telinga adalah pintunya. Apa saja yang masuk dapat mebentuk jiwa dan perilaku. 
(Mitha Tanjung)

#menulisituasyik
#menulisituekspresidiri
#menulisitumenyembuhkan







 

Rabu, 17 Februari 2021

Muara Cinta Terakhir


 Muara Cinta Terakhir

By Tek Nun

" Duh, pagi-pagi membahas cinta, makan dulu napa," ucap Upiak Banun dari dapur.

"Jangan sok alergi gitu deh. Emang situ nggak butuh cinta."

"Cintaku sudah lama mati, Tek."

Jlep

Tek Nun tak mau melanjutkan ocehannya. Kalau dilanjutkan bisa-bisa patuih-patuih hari. Karena lima huruf ini bisa mengubah suasana hati seseorang.

"Jangan berlarut-larut. Kumbang indak sa ikua, bungo indak satangkai."

"Tau aku, Tek, kumbang indak sa ikua. Tapi kalau bunga tak mau lah."

"E alahhh, selama musim pandemi ini malah orang pada hobi menanam bunga."

"Kalau itu mah paham. Maksudnya yang bunga pertama tadi. Masa jeruk makan jeruk. Aseeemmmm😣

Ha ha ha ...

Kembali ke cerita di atas.

Sepanjang aliran cinta yang kita tempuh, tentu akan sampai jua ke muaranya. Yang menjadi pertanyaan, sudahkah kita menentukan kemana cinta kita akan bermuara?

"Tek Nun?"

"Iya."

Mata Upiak Banun mulai tampak berkaca-kaca. Entah apa yang membuat dirinya rapuh seperti ini. Padahal pembicaraan Tek Nun biasa-biasa saja. Tak terlalu menghentak. Tak biasanya ia seperti ini.

"Napa lo melow begitu?"

"Litak."

"Eiii, karambie cukia. Molah makan wak lu, Tek Nun iyo lo."😁

Tapi sebelum Tek Nun lanjut makan, sedikit pesan yang ingin disampaikan. Mencintai apa pun dan siapa pun itu boleh-boleh saja. Itu hak setiap manusia.

Namun, ingat. Jangan sampai cintamu pada yang lain mengalahkan cinta kepada empunya Sang Pemberi Cinta. Karena muara dari semua rasa cinta yang kita miliki adalah kepadaNya.

Tak ada satu pun yang dapat menandingi cintaNya. Sekali pun terkadang kita mengabaikan perintahNya. Namun, tak pernah ia mengabaikan cintaNya kepada umatNya. Karena muara cinta yang sesungguhnya hanyalah kepadaNya.

#menulisituasyik
#menulisituekspresidiri
#menulisitumenyembuhkan

Selasa, 16 Februari 2021

Tumbuak Tanak Dek Awak


 Tumbuak Tanak Dek Awak

By Tek Nun


"Tumbuak dek awak, tanak dek awak, makan dek awak." Ucap Tek Nun berulang-ulang. 

"Manga baturo-turo, Tek Nun? Alah makan bagai?" Tanyo Upiak Banun dari dapua.

"Rasok tapi kain," ucap Tek Nun tanpa menghiraukan yang bertanya.

Penasaran dengan apa yang barusan ditura-turakan Tek Nun, Upiak Banun meninggalkan pekerjaannya sejenak. Kemudian menghampiri Tek Nun untuk minta penjelasan terkaitan ucapannya barusan. 

"Lah makan, Tek Nun?"

"Duo kali baru," jawabnya singkat.

"Kan alah tu. Beko lo malam lai."

"Kok bisa tigo kali manga harus duo kali."

"Baa ndak ka sagadang dorom minyak tanah diantak an badan, pukua 12 hari baru lah mintak 3 kali pulo makan," dalam hati Upiak Banun. 

Kalau langsuang ma ka talok, kanai sarambua buliah. 😅

"Nyo manga tadi tu Tek Nun?" tanyo Upiak Banun.

"Emang manga?"

"Tubaturo-turo, apo nan tajadi?"

"Owh, itu...mulai kini tumbuak tanak dek awak lai."

"Kan salamo ko emang mode itu mah."

"Kecek sia?"

"Kecek sia pulo. Kecek nan sadang mangecek lah.

Ha ha ha...

Jan paneh sakali eee. Mantang-mantang kok iyo musim paneh kini, saketek saketek naik tensi. Mako e jan acok-acok bana bali sate kambiang. 🤣

Babaliak awah panabangan. Kini Upiak Banun pulo nan baturo-turo lai. Nan Tek Nun lah mulai dingin kapalonyo. 

Ndak usah dipapanjang carito. Sato pulo nan lain naiak tensi beko ndak takameh dek Tek Nun do. 

Kini mode ko sajolah, mulai dari kini kamehi padok surang-surang. Ndak usah engong suok engong kida juo lai. Pikie an sajo dima paruik nan kakanyang.

"Paruik juo baru."

"Tantu lah iyes nyo "

"Kudok tu paruik."

Ha ha ha....


#menulisituhiburan

#menulisitumenyembuhkan

#menulisituekspresidiri