Senin, 17 Juni 2019

Air Liur Menyapu Lantai

*Tugas (6)*

*Air Liur Menyapu Bantal*
*By Noer*

Hari ini kelas JW45 akan dimulai. " jam 20.02 ya. siapkan batery dan mentalmu", sapa Coach tadi malam.

Kalo ada yang bilang gen JeWe itu keras kepala, akulah salah satunya. Kenapa tidak! Sekali dua kali tak cukup bagiku untuk berjuang dan bersua Coach. Mungkin akan berlanjut ke tahap selanjutnya.

_Keras kepala atau lamban?_
_Entahlah..._

Yang pasti aku ketagihan. Kecanduan lebih tepatnya.

Dari dulu aku emang paling suka menulis dan membaca. Namun, bukan segila dan semabuk sekarang. Tak pernah diri ini menduga akan seperti ini akhirnya.

_Zzzz_
_Zzzz_

Terdengar suara dengkuran di sebelahku. Rupanya dek Qiana tertidur pulas ditemani boneka Babi kesayangannya.

_Eits_

Ada aliran sungai dadakan mengalir di sisi bonekanya.

_"Awas, banjir!_

Terlihat jelas wajah tenang tanpa dosa. Adem dan menyejukkan.

Aku tersenyum  menyaksikan raut muka dek Qiana. Betapa bahagiamu, Nak. Sebahagia ketika ibuk berada di kelas JeWe.

_"Yakin bahagia?"_ tanya teko dari atas meja.

_"Yakin dong, JeWe gitu",_ jawabku dengan semangat.

Yang aku tau, aku yakin bisa. Walau sebenarnya aku masih berpacu mengulik ide yang sesekali masih tidur pulas sambil ngorok.

_Khkhkh_
_Khkhkh_

Namun semangat belajarku takkan pernah surut. Seperti surutnya air liur saat terbangun.

_"Mulai hari ini kuyakinkan diri ini, atas ijinNya tulisanku akan selalu dirindukan pembaca."_

_Sudah kategori affirmasikah?"_

_Kuikhlaskan diri ini  menjadi penulis hebat yang tulisannya selalu ditunggu pembaca._

_Amiin Allahumma Aamiin..._
*Semangat menuju kelas 45*

#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia

Rabu, 12 Juni 2019

Air Mata Mengusir Handuk

*Air Mata Mengusir Handuk*
*By Noer*

Tak pernah terpikir dan terbayangkan akan sampai ke tahap ini. Hingga semua yang ada bisa menjadi sebuah tulisan.

Seperti pola atau tips yang pernah dituangkan guruku kedalam ember ideku.

*Tips Anti Mentok atau Buntu* 21 benda cair yang ada dalam diri. Pernah kebayang ngg air mata mengusir handuk? Ini hanya ada di kelas JeWe.

“Bu Noer, kenapa idemu aneh2 begitu?" Tanya salah seorang temanku.

Aku relakan diri ini menulis setiap hari dengan enjoy dan bahagia. Dengan ijin Allah semoga disukai dan dirindukan pembaca.

Mereka para kengkawan mulai melirik dan singgah di wall fbku. Seperti menonton panjat pinang di hari raye. Rame dan ditingkahi suara pekikan semangat.

“Aku juga tak kalah rame. Maunya jempol seksi ini goyang terus. Rasa minder dah mulai mundur selangkah demi selangkah. PeDe aja kalii...

_Aduhhh_

Seekor semut menggigit jari kelingkingku. Rupanya aku dari tadi duduk bersandar dekat lalu lintas si Semut.

Apa aku akan berhenti sampai di sini? No...no.... no.... walau gatal di jari tak bisa kompromi. Menulis tetap lanjutkan.

 _Lanjutkan?_

Cukup satu periode. Karena dunia semakin edan. Jangan serakah!

“Merasa mampu?” tanyaku. Namun gambar di dinding seolah tak mau menjawab.

_sudah_
_sudah_

Dari pada mikirin yang ngg jelas. Baiknya nulis nulis and nulis. Terlalu banyak mikir ntar idenya parkir. Lama2 bisa terkilir atuh!

"Tapi aku nggak bisa nulis", terdengar suara kemalasan merayuku.

"Maaf coy. Aku bukan yang dulu lagi. Sekarang dah beda. Mulai hari ini, aku ikhlaskan diri ini menulis dengan bahagia. Dengan izin Allah, aku akan menjadi penulis yang tulisannya laris and bestseller tentunya.

"Cerdasss", ucap sebuah suara.

"Lantas, gimana cara memulainya. Ngg ada ide. Ntar dibilang jelek. Ngg nyambung?", lagi2 suara kemalasan menggodaku.

Antrian panjang alasan menyerangku. Bagaimana cara melawan ketakutan dan kecemasan itu?

_Hmmmmm ...._

Justru ketakutan dan kecemasan itu bisa menjadi sebuah tulisan. Klw ngg ada jelek mana ada bagusnya. Hi hi...

Ternyata menulis tak sesulit yang dibayangkan. Asi saja bisa menjadi sebuah tulisan yang ciamik. Kalau ngg percaya baca tulisan mba  @⁨Nursih Hariani⁩ dengan judul *Asi Menulis Wajan*

Ada pembelajaran di sana agar seorang ibu menyapih anaknya selama dua tahun. Jangan buru2 dikenalin dengan susu formula.

Uni @⁨dr. Darmanelly⁩ juga mengupas lebih dalam melaui ilmu kesehatan. Masih ragu dengan efek virus JeWe? Sungguh terlalu... padahal baru pemanasan lho!

"Antusias banget, Uni", tanya bantal guling di sampingku.

"Iya dong.", jawabku yakin.

“Mantab. Lanjutkan".

_Ha...ha...ha...._

"Sampai berapa kali?"

"Sampai Coach bosan", jawabku sekenanya.

_Tara....._

_36 43 45_

“Apa hubungannya? Nomor buntut ya?

Nggak usah dipikirin. Biar dia nyari cara sendiri agar nyambung.

_Edan_

Maaf sobat. Nulis ala JeWe itu suka suka. Mau dari yang manis, pahit, asem atau asin boleh. Dicampur jadi nano2 juga boleh. Yang penting *bahagia*

Lalu, apa hubungannya dengan *air mata mengusir handuk?*

Tak perlu handuk bro. Biarkan ia meleleh. Karena itu air mata bahagia.

#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#Virusbahagia

Air Seni Mendobrak Ember

*Air Seni Mendobrak Ember*
*By Noer*

"Jika ingin bahagia di dunia tuntutlah ilmu. Jika ingin bahagia di akhirat tuntutlah ilmu. Jika ingin kedua2nya juga tuntutlah ilmu. Lalu, kenapa kau masih termangu?

Tampak dari jendela kaca Syarif buru2 berjalan menuju kelas. Teman2nya sudah 30 menit yang lalu mengikuti ujian. Ia terlambat.

"Syarif,, kenapa terlambat? Aku menyapanya penuh selidik.

Sejenak Syarif tertegun sebelum sampai di kursi tempat duduknya. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu. Jemarinya tampak mรจremas2 tali tas sandangnya.

"Mmmaaf, Bu." Sahut Syarif agak gugup.

"Yup, silakan dimulai ujiannya!" Pintaku padanya.

Aku sibuk di depan mengisi lembaran blangko berita acara dan blanko daftar hadir. Semua siswa hanyut dengan lembaran soal yang dibagikan. Sesekali terdengar batuk2 kecil dari peserta ujian.

_Uhuk_
_Uhuk_

"Kenapa, kamu kurang sehat?"

"Iya, Bu."

"Jangan banyak minum sirup dan kue lebarannya. Kalau kebanyakan bagi dong. He....", candaku pada salah seorang siswaku.

_He_
_He_

"Ibu mau?"

"Nggak. Nggak bakalan nolak jika dikasih."

_Udah_
_Udah_

"Lanjutkan ujiannya. Waktu tinggal 30 menit lagi", aku memperingatkan mereka.

Tiba tiba terdengar suara benda jatuh.

_Plakkk..._

Aku menebarkan pandangan ke setiap sudut kelas mencari sumber suara tersebut. Pandanganku terhenti di meja Syarif. Tampak ia kasak kusuk membereskan isi tasnya yang tumpah ke lantai.

"Syarif, ...." panggilku.
"Kenapa denganmu?" Tanyaku heran.

Syarif hanya menggeleng. Aku mendekati mejanya. Belum satupun LJK yang dihitamkannya. Sementara waktu tinggal 30 menit lagi.

"Ada apa denganmu Syarif?" Tanyaku pelan.

Akhirnya, Syarif mebuka suaranya.

Syarif menjelaskan, bahwa ia semalam tak belajar. Tak ada sedikitpun ia mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan semester hari ini.  Karena ia harus menanggung sakitnya perut yang disertai diare. Wajahnya tampak pucat dan kuyu.

"Sudah. Sekarang kau temui guru bidang studi yang bersangkutan dan minta ujian susulan".

"Baik, Bu", jawabnya pasrah sambil berkemas2.

_Acinnn_
_Acinnn_

Tiba tiba dari arah depan terdengar suara bersin berturut-turut. Suasana ulangan semester di ruanga 14 sedikit terganggu. Beberapa orang siswa terganggu kesehatannya.

Mereka para siswa harus segera kembali ke sekolah setelah baru saja menikmati liburan Idul Fitri. Karena ulangan kenaikan kelas juga menanti.

"Aduh, aku nggak bisa nahan lagi", suara Michael memecah keheningan.

Ia berlari secepat kilat menuju kamar mandi di sudut perpustakaan sekolah.

_Plakkkk..._

Ember dekat pintu jadi sasaran. Ujung sepatu Michael tak sengaja menendang ember berwarna hijau. Dan menghalangi langkahnya.

Karena terburu2 tumit Syarif secara spontan menendang ember itu ke arah belakang.

_Tuntang_
_Gedubrakkk..._

Ember kembali berguling dan memantul kembali ke arah klosed.

"Diam di situ, jangan bawel!"pinta Michael kepada ember.

Akhirnya Michael dengan tenang bisa melepas kegundahanya di ruangan sempit berukuran 3 bidang keramik itu. Langit2 bercat putih dan dinding didominasi warna hijau langit.

"Emang warna langit hijau?"

"Entahlah. Kata nenekku begitu." Semua warna itu hijau. Hijau langit. Hijau terong.

"Hijau pucuk kaleee...."

_Ha_
_Ha_

#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia

Air Ketuban Menghantam Lantai

"Air Ketuban Menghantam Lantai"
By Noer

"Kenapa dia belum juga pulang?" Tanya Pipit berkali-kali.

"Hmmm... "

Rasa khawatir mulai bersarang dalam kepala Pipit. Semenjak pagi ia menunggu kedatangan suaminya, sampai tengah malam begini belum juga ada tanda-tanda langkah mendekati teras rumahnya.

Pipit semakin bertanya-tanya dalam hati.

"Ayo tidur, Bu." Terdengar bisik mesra dari dalam rahimnya.

Pipit mengelus perutnya. Karena di rahimnya bersarang seorang pangeran kecil. Yang insyaallah akan menjadi penyemangat dalam hidupnya.

"Assalamu’alaikum..."

Terdengar di luar seseorang mengucap salam sambil mengetok pintu. Namun suara itu kurang jelas. Karena ditingkahi suara rintik hujan.

"Wa'alaikumussalaam." Sahut Pipit. Kemudian ia bangkit dari duduknya. Dan berdiri menuju pintu depan.

Meongggg
Meongggg

Suara kucing kesayangan pipit menghentikan langkahnya sejenak. Sepertinya ia berusaha menghalangi Pipit membuka pintu.

"Awas, ntar ke injak", seru Pipit. Karena ia terus menggosok-gosokkan badanya ke kaki pipit. Membuat langkah Pipit sedikit terganggu.

Sampai di depan pintu, Pipit menarik gagang pintu, dan pintu pun terbuka. Ternyata benar, orang yang berdiri di luar bukan suaminya. Tetapi adik laki-lakinya yang baru saja pulang dari lapau. Seketika wajah Pipit tampak kecewa.

Grrrr...
Grrrr...
Grrrr...

"Dingin." Sambil menyelonong masuk.

Sementara Pipit masih bengong berdiri di pintu. Ia longokkan kepalanya keluar, berharap suaminya menampakkan puncak hidungnya.

Duarrr...
Duarrr...

Suara petir terdengar menggelegar.

"Tutup pintu, Uni." Sorak adik Pipit dari dalam.

"Ya"

Pipit menutup pintu. Walau sebenarnya ia masih ingin menunggu kedatangan suaminya. Pipit semakin menyelam ke dalam kegalauan.

Ting tong
Ting tong

Suara notifikasi hp menyadarkan lamunan Pipit.

Pipit menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan. Kemudian duduk di sofa sambil mengelus layar hp.

Sebuah pesan dari group SMA. Lagi-lagi pipit menelan ludah kekecewaan. Tampak Pipit tak bisa menahan diri lagi. Ia beranikan diri untuk menelpon.

Tut
Tut
Tut

Tak ada sambungan. Sepertinya nomor yang dituju tak bisa dihubungi. "Mungkin ada gangguan signal, karena di luar hujan." Pipit masih berpikiran positif.

Berbagai pertanyaan menghujam pikiran Pipit. Pipit terlihat semakin gelisah.

Pikirannya berkelana ke mana-mana.

Ia melukiskan isi hatinya di lantai sambil menggerak-gerakkan jempol kakinya.

"Kacauuu...!!!"

Pipit mulai kasak-kusuk. Mengira-ngira apa yang membuat suaminya belum juga pulang. Meraba-raba pertanyaan demi pertanyaan. Namun jawabannya tak kunjung ditemui.

"Hufff..."

Terdengar suara pasrah dari mulut Pipit. Seolah sangat menusuk-nusuk ulu hatinya.

Matanya mulai berkaca-kaca. Nafasnya sedikit tak beraturan.

Pipit terlihat kebingungan. Ia terperangah. Butiran bening mulai mengucur di sudut matanya. Tak sanggup lgi membendung air matanya yang menganak sungai.

"Kondisi bunting seperti ini, kau tega meninggalkanku", Pipit membatin.

Kabut di wajah Pipit perlahan semakin menebal.

Dia mulai tak bisa mengendalikan emosi.

Perut Pipit seakan ikut merasakan apa yang dirasakannya. Ada semacam reaksi yang dikirim bayi dalam kandungannya juga ikut meronta.

"Aduhhh..."

Ia menendang. Pipit meringis kesakitan.

"Kenapa, Kak?" Tanya adik bungsunya.

"Perut kakak sakit",

"Jangan, jangan...?"

"Maaaak, Kakak mau melahirkan", sorak adik bungsu Pipit.

=======

Di ruangan 3 x 4 meter, bercat putih dan gorden berwarna hijau, perjuangan pipit bersama pangerannya berhasil.

Oeeek
Oeeek
Oeeek

....
....
....

#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia

Darah Menyerang Pisau

*Darah Menyerang Pisau*
*By Noer*

Apa yang terlintas dalam pikiranmu, ketika mendengar kata darah dan pisau? 

_Takut?_
_Ngeri?_
_Atau Seram?_

Mana yang lebih menakutkan dari kehilangan seseorang yang dicintai? Atau lebih ngeri dari dikejar angsa betina. Bahkan lebih seram dari lolongan anjing tengah malam.

_Auuuuuuuu..._
_Auuuuuuuu..._

Merahnya darah semakin kian nyata. Memancar ke langit biru dan memantul ke akar bumi. Aroma anyirnya menyeruak ke seluruh bumi pertiwi.

"Kenapa bumi pertiwi sampai menangis darah Tek Nun?" tanya semut merah.

Tek Nun diam seribu bahasa. Ia mendengar dengan jelas pertanyaan si Semut. Tapi ia tak bisa menjelaskan dengan gamblang. Takut di bilang menyebarkan hoax.

"Aduhhh", Tek Nun melonjak kesakitan. Rupanya peluru tepat mendarat di dadanya. Ia masih setengah sadar. Ia raba dari balik baju. Ia temukan sebuah anak peluru. Kemudian ia tarik keluar. Ia perhatikan dengan kaca matanya. Rupanya Si Semut.

" Hai Semut. Apa maksudmu menggigitku?

"Maaf Tek Nun. Memang aku sengaja".

"Maksudmu?"

"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku", jawab disemut dengan wajah serius.

Kepo...

Setelah seminggu kejadian berdarah itu, Tek Nun masih mencium aroma. Aroma yang begitu kuat. Hingga merontokkan beberapa helai bulu hidung.

Sekuat dan seserakah itukah nafsu hingga sulit sekali mengatakan yang sebenarnya. Sanggupkah dia berlam-lama menyembunyikan kejujuran?

_Entahlah..._

Bacaan takbir menggema mengiringi doa kejujuran. Walau sulit, mereka tetap bertahan. Walau percikan gas beracun dari mulut berbisa ular menyerang mereka..

Malam hari gema takbir masih sama seperti siang. Pekikan kejujuran terdengar begitu lantang. Namun, apakah kebohongan akan mengalah?

Tidakkk...

Malahan semakin beringas. Darah mulai menetes setetes dua tetes. Hingga mengalir menganak sungai.

Siapa korbannya? Siapa lagi kalau bukan di pihak jujur.

Kepala mulai terasa lebih berat.  Aku tak sanggup menyaksikan. Kudekap doaku dalam doa, semoga yang kuasa menunjukkan kekuasaanNya.

"Uggghhh.. seperti hidup dinegara konflik. Efek bila nafsu telah membelenggu diri." batinku

"Hari ini jangan nonton dulu,  Ya!" Suami Tek  Nun mengingatkan. Ia mengangguk tanda setuju. Tapi memperlihatkan mimik khawatir.

"Mengapa hidup tak bebas bergerak seperti dulu lagi? Semua diatur. Sampai-sampai untuk komunikasi dengan lokal Jewe 45 saja dilarang", Tek Nun mulai emosi.

Tak adakah bersarang rasa malu di dada mereka? Tek Nun kian memerah wajahny menahan amarah.

Tiba tiba terdengar suara memekakkan telinga.

_Duarrr...._

Tek Nun kaget bukan main. Rupanya balon yang ia belikan untuk anaknya kemaren meletus.

"Ha ha ha..."

Terdengar suaraa gelak tawa anak-anaknya dari ruang tamu. Ia bangkit dari depan tipi menuju sumber suara.

"Haduuh, dek mainnya hati-hati", tegurnya pada anak-anak.

Darah mulai protes. "Kenapa harus pakai senapan. Kalau berani coba pakai pisau dan bacakan _Bismillah_ ". Dengan begitu darahku halal bagimu.

_Pekikan suara kebenaran_

#belajarpolahipnotikJeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia

Jumat, 31 Mei 2019

Pola 3 tugas 1

Tugas (1)

Ingus Menggertak Tissue
By Noer

Whaat???

"Apa yang dilakukan  tissue hingga membuat ingus naik pitan? Biasanya dia karib. Selalu bekerja sama. Sangat solid." Beberapa pertanyaan menyerangku.

Aku semakin heran dengan dunai sekarang. Semua semakin edan. Apakah ini sebuah pertanda, bahwa dunia ini sudah semakin tua?

Entahlah ...

Semalam aku sempat hujan-hujanan menyelamat anak kucing yang jatuh ke dalam got. Untung ia cukup mengerti bahasaku. Saat ku ambil ia dengan sodok sampak ia menyerahkan diri.

Namun walau sedikit, cukup lumayan juga mempengaruhi kesehatanku. Saat bangun tidur hidung langsung mampet.

Apakah imun tubuhku semakin berkurang? Biar Uni @⁨dr darmanelly⁩ aja yang menjawab dengan keilmuannya.

Tok
Tok
Tok

“Assalakualaikum, Uni", terdengar suara dari arah depan.

"Waalaikum salam."

Aku penasaran. Siapa yang bertamu pagi-pagi? Rupanya petugas kebersihan menagih uang sampah bulanan.

"Maaf, Bapak. Saya lupa."

"Ngg apa-apa, Uni. Asalkan..."

"Asalkan apa, Pak."

"Asa lai dilabiah an saketek." Tukang sampah itu mencoba memcandaiku.

 Aku sebenarnya malu sama si Bapak. Bagaimana tidak malu coba. Pagi-pagi ia sudah sampai di depan rumah warga untuk memungut sampah.

Disiplin sekali beliau. Sehingga warga tidak ada yang tidak kenal. Sama seperti hari ini. Sampah yang aku gantung di depan rumahku beliau ambil. Jika ada yang berserakan beliau kumpulkan dengan menggunakan sodok sampah sampai benar-benar bersih.

Tak terkecuali sampah tissue bekas ingusku.

"Coba kau tengok bapak itu tissue. Beliau tak pernah mengalah dengn keadaan. Lhaaa, kamu tinggal menari aja dihidungku pake berantem pula sama si Ingus", kataku pada si Tissue.

"Iya, Uni. Maafkan aku", kata Tissue dengan wajah memelas. Tampak ia sudah mulai akrab lagi dengan Ingus.

Selidik punya selidik, rupanya awal pertengakaran mereka karena Tissue tak punya belas kasihan. Si ingus sulit sekali keluar dari sarangnya. Saat Tissue mau membantu, rupanya tinssue merusak rumahnya. Terjadilah pertengkaran sengit. Si Ingus gagal keluar sementara rumanya di rusak.

Dalam hal ini, sebenarnya Ingus tidak salah. Begitu juga dengan Tissue. Tissue telah berusaha membantu Ingus. Sementara Ingus juga demikian. Malah sudah dibantu dengan kekuatan dalam. Cuma ingus badannya sedikit kaku, makanya gerakannya lambat dan kaku.

"Bagaimana caramu menjual ingusmu?"

"Suara siapa itu? Kenapa suara dan pertanyaannya hampir mirip dengan guruku?", tanyaku dalam hati.

Ting
Tong

Terdengar suara bel kelas JeWe45 dengan jelas. Aku melongok ke jendela. Tampak guruku sedang memberikan sebuah pancingan imajinasi murid-miridnya.

Kulihat ke sudut kanan kelas, tampak Uni @⁨dr darmanelly⁩ sedang mencari-cari keberadaanku.

"Bu @⁨noerhayatinoer⁩  mana ya? Tak ada suaranya."

"Sedang bikin rendang kali", jawab Uni @⁨Maria Ulfa⁩

Aku senang sekali bisa ngumpul sama Uni-uni sekampung. Walau hanya dalam kelas "Dumay".

Jauh di mata dekat di hati.

118 chatt...Telat dah.

Aku lagi dikejar waktu. Menyelesaikan proyek baju lebaran. Pesanan rempeyek juga ada beberapa puluh bungkus. Makanya aku hanya bisa ngintip dari jarak jauh.

Tapi, yakinlah sobat. Aku masih di sini. Dihatimu...

Namun, semakin ku dengar, keriuham kelas semakin ramai. Aku semakin penasaran. Kali ini kuberlari ke kelas. Kutitip jahitanku sebentar sama kain perca yang masih setia menemaniku sedari tadi.

"Perca, titip jahitan, Uni ya. Uni mau kekelas sebentar."

"Ok, Uni. Tapi jangan lama-lama ya. Aku tak kuat jauh-jauh dari Uni", rayunya.

Lebay....

Aku berlari sekuat tenaga sambi menyeret otak kanan. Aku temukan kosa kata sekitar 10 bungkus.

Air ketuban menghantam lantai. Air seni mendobrak ember. Darah menyerang pisau. Air mata mengusir handuk. Air liur menyapu bantal. Air asi membelai botol. Keringat membasahi selimut. Ingus menggertak tisu. Air telinga menyiksa cuttan but. Sperma menyemprot bunga.

Lumayan untuk memancing liukan otak kanan.  Memulai permainan diksi untuk memunculkan rasa bahagia. Rasa yang kadang hilang dan timbul.

Tak
Tak
Tak

Saya balik dulu ya. Ntar si Perca lama-lama ditinggal ngambek dia.

Daaaa...

#belajarpolahipnotikJeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia

Pola 3 tugas 2

*Darah Menyerang Pisau*
*By Noer*

Apa yang terlintas dalam pikiranmu, ketika mendengar kata darah dan pisau?

_Takut?_
_Ngeri?_
_Atau Seram?_

Mana yang lebih menakutkan dari kehilangan seseorang yang dicintai? Atau lebih ngeri dari dikejar angsa betina. Bahkan lebih seram dari lolongan anjing tengah malam.

_Auuuuuuuu..._
_Auuuuuuuu..._

Merahnya darah semakin kian nyata. Memancar ke langit biru dan memantul ke akar bumi. Aroma anyirnya menyeruak ke seluruh bumi pertiwi.

"Kenapa bumi pertiwi sampai menangis darah Tek Nun?" tanya semut merah.

Tek Nun diam seribu bahasa. Ia mendengar dengan jelas pertanyaan si Semut. Tapi ia tak bisa menjelaskan dengan gamblang. Takut di bilang menyebarkan hoax.

"Aduhhh", Tek Nun melonjak kesakitan. Rupanya peluru tepat mendarat di dadanya. Ia masih setengah sadar. Ia raba dari balik baju. Ia temukan sebuah anak peluru. Kemudian ia tarik keluar. Ia perhatikan dengan kaca matanya. Rupanya Si Semut.

" Hai Semut. Apa maksudmu menggigitku?

"Maaf Tek Nun. Memang aku sengaja".

"Maksudmu?"

"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku", jawab disemut dengan wajah serius.

Kepo...

Setelah seminggu kejadian berdarah itu, Tek Nun masih mencium aroma. Aroma yang begitu kuat. Hingga merontokkan beberapa helai bulu hidung.

Sekuat dan seserakah itukah nafsu hingga sulit sekali mengatakan yang sebenarnya. Sanggupkah dia berlam-lama menyembunyikan kejujuran?

_Entahlah..._

Bacaan takbir menggema mengiringi doa kejujuran. Walau sulit, mereka tetap bertahan. Walau percikan gas beracun dari mulut berbisa ular menyerang mereka..

Malam hari gema takbir masih sama seperti siang. Pekikan kejujuran terdengar begitu lantang. Namun, apakah kebohongan akan mengalah?

Tidakkk...

Malahan semakin beringas. Darah mulai menetes setetes dua tetes. Hingga mengalir menganak sungai.

Siapa korbannya? Siapa lagi kalau bukan di pihak jujur.

Kepala mulai terasa lebih berat.  Aku tak sanggup menyaksikan. Kudekap doaku dalam doa, semoga yang kuasa menunjukkan kekuasaanNya.

"Uggghhh.. seperti hidup dinegara konflik. Efek bila nafsu telah membelenggu diri." batinku

"Hari ini jangan nonton dulu,  Ya!" Suami Tek  Nun mengingatkan. Ia mengangguk tanda setuju. Tapi memperlihatkan mimik khawatir.

"Mengapa hidup tak bebas bergerak seperti dulu lagi? Semua diatur. Sampai-sampai untuk komunikasi dengan lokal Jewe 45 saja dilarang", Tek Nun mulai emosi.

Tak adakah bersarang rasa malu di dada mereka? Tek Nun kian memerah wajahny menahan amarah.

Tiba tiba terdengar suara memekakkan telinga.

_Duarrr...._

Tek Nun kaget bukan main. Rupanya balon yang ia belikan untuk anaknya kemaren meletus.

"Ha ha ha..."

Terdengar suaraa gelak tawa anak-anaknya dari ruang tamu. Ia bangkit dari depan tipi menuju sumber suara.

"Haduuh, dek mainnya hati-hati", tegurnya pada anak-anak.

Darah mulai protes. "Kenapa harus pakai senapan. Kalau berani coba pakai pisau dan bacakan _Bismillah_ ". Dengan begitu darahku halal bagimu.

_Pekikan suara kebenaran_

#belajarpolahipnotikJeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia