*Tugas 1*
*Terlanjur Cantik*
*By Noer*
Cantik itu ada dalam dirimu. Bersemayam dalam kalbu. Lalu kenapa harus berputar2 mendapatkannya?
_Ting tong_
Terdengar suara notifikasi saling berpacu. Aku beringsut lalu membelai dengan rasa sayang.
"assalamualaikum sahabatku", sapa sang guru.
"Apa warna nafasmu hari ini?"
_Hah???_
Kenapa dah mulai aja. Kan baru pukul 19.35. Katanya pukul 20.02. Apa yang terjadi? Mungkin kelas ini terlanjur cantik.
_Ha_
_Ha_
Aku berpikiran hanya sapaan menjelang dimulai. Rupanya langsung ngegasss...
Ngeeeeng
Ngeeรจeng
Tanpa pikir panjang. Aku langsung jawab itu pertanyaan dengan nafas tersengal2.
"Kuning. Karena kuning warna kebahagiaan yang penuh semangat. Selain itu warna kuning memberikan kesan ceria, bahagia, energik dan optimis."
Aku begitu semangat malam ini. Sesemangat dan seceria warna kuning.
Meooong
Meooong
Kucing kesayanganku tiba2 memecah konsentrasiku. Sepertinya ia lapar. Aku beranjak dari tempat dudukku menuju meja makan. Kemudian megambil nasi satu sendok dan menaburinya dengan serundeng yang dicampur ebi goreng.
Nyam
Nyam
Si Meong berlari menuju piring makannya. Piring empat persegi yang didominasi warna putih.
Ting
tong
tong
tong
Kelas semakin ramai. Aku segera berlari menuju kelas. Tampak pertanyaan semakin menumpuk.
"Siapa yang bertanggung jawab atas lika liku nafasmu?"
"Pastinya diriku sendiri dan campur tangan Allah swt", jawabku dengan yakin.
Apapun yang terjadi di alam semesta ini tak ada yang terlepas dari ijinNya. Sekalipun itu jatuhnya sehelai daun.
"Mengapa anda masih bernafas hari ini?"
"Karena Allah masih izinkan aku untuk memperbaiki diri guna menambah tabungan amal untuk bekal menuju kampung akhirat."
Alhamdulillah. Berulang kali aku mengucapkan puji syukur atas nikmat bernafas hari ini. Karena tak seorang pun yang tau kapan Allah akan menyetop nafas seseorang.
Untuk itu sudah sewajarnya sebagai makhluk di muka bumi agar senantiasa beribadah kepadaNya.
"Bagaimana caramu menyedekahkan nafasmu?"
"Dengan cara menebar kebaikan setiap hari melalui sedekah. Salah satunya sedekah tulisan."
Sedekah adalah salah satu amal jariyah yang akan menolong manusia di akhirat nanti.
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu):
1. sedekah jariyah,
2. ilmu yang dimanfaatkan,
3. dan do’a anak yang sholeh (HR. Muslim).
"Apa yang terjadi jika nafasmu nafaamu ngambek selama 3 menit?"
"Kiamat dah. Dunia tak seindah sebelumnya."
"Wow bisa kacau...masuk Ugd...imajinasiku lenyap aku merasa tak mampu lagi bersedekah..sedih merasa belum cukup amalku", sorak mba @oomkomariyah9417
Hampir semua sepakat, jika ini terjadi selesai perkara.
Tak lama kemudian, suara sang guru mulai meredup. Namun masih terdengar dengan jelas.
"Jadi, berapa harga nafasmu sebenernya?"
"Sangat mahal. Sehingga tak bisa dinominalkan dengan uang. Seharga kehidupanku sampai titik terakhir menuju keabadian."
Tak sedikitpun terbayang angka2 dalam pikiranku. Karena memang tak bisa diperjualbelikan. Apalagi dinegosiasikan.
Oh no...
"Sejujurnya, kapan kamu merasa benar benar mensyukuri nafasmu?"
"Saat terbangun malam tadi. Nafas begitu sesak. Tiba2 tersentak. Alhamdulillah aku masih bisa menarik dan menghembuskan nafasku dengan lega. Ngerinya๐
Allahu akbar
"Lalu, apa yang benar benar ingin kau katakan pada nafasmu?"
"Nafas. Tetaplah menjadi teman baikku. agar setiap helaanmu menjadi kebajikan dalam hidupku."
Alhamdulillah...
#JeWe45
#polaLDASUPER
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
Senin, 17 Juni 2019
Air Asi Membelai Botol
*Tugas (7)*
*Air Asi Membelai Botol*
*By Noer*
_"Dan ibu-ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya... (Albaqorah:233)"_
Menjadi seorang ibu merupakan takdir terindah bagi siapa yang dikehedndakiNya. Karena masih banyak di luar sana para wanita berjuang untuk menjadi seorang ibu dari anak2 yang di lahirkannya.
Lantas bagaimana perjuangan wanita yang telah ditakdirkan menjadi seorang ibu? Sudahkah sesuai dengan apa yang disyariatkan? Jangan sampai kufur nikmat!
"Sudah berapa orang anggotanya, Bu? Tanya seorang ibu2 dalam angkot pagi tadi.
Tampak yang ditanya hanya senyum. Tak kuasa untuk menjawab sejujurnya. Selidik punya selidik, ternyata yang ditanya belum dikaruniai keturuan setelah menikah selama 9 tahun.
Untung saja ada anak kecil dalam angkot itu mengalihkan perhatian yang bertanya. Sehingga pertanyaan tak berlanjut.
"Ma, mimik", pinta bocah kecil.
Si Ibu muda mengeluarkan sebuah botol susu kecil dengan tutup berwarna kebiruan. Kemudian menyerahkan kepada si Bocah. Saat botol susu tersebut ada di genggamannya si Bocah seakan menemukan kedamaian dalam hidupnya.
"Ma", ucap si Bocah.
Si Ibu menggendong anaknya. Seakan tau betul apa yang diinginkan anaknya. Ia peluk anaknya. Tak lama kemudian tampak mata si Bocah terpejam dan tertidur.
"Siko ciek, Da", ucapku pada supir angkot.
Angkot yang aku tumpangi berhenti. Kemudian membayar ongkos dengan uang pas. Karena di pintu angkot tertera sebuah pengumuman, "Bayarlah dengan uang pas". Aku mah orangnya taat aturan.
_Ihaaaaa_
Asi membelai botol. Semoga semua ibu2 di dunia ini bisa tetap mengisi botol dengan air asinya. Bukan asi buatan. Kecuali karena ulah atau sebab tertentu yang tak bisa ditoleransi.
Sehat selalu ya buibu❤❤❤
#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
*Air Asi Membelai Botol*
*By Noer*
_"Dan ibu-ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya... (Albaqorah:233)"_
Menjadi seorang ibu merupakan takdir terindah bagi siapa yang dikehedndakiNya. Karena masih banyak di luar sana para wanita berjuang untuk menjadi seorang ibu dari anak2 yang di lahirkannya.
Lantas bagaimana perjuangan wanita yang telah ditakdirkan menjadi seorang ibu? Sudahkah sesuai dengan apa yang disyariatkan? Jangan sampai kufur nikmat!
"Sudah berapa orang anggotanya, Bu? Tanya seorang ibu2 dalam angkot pagi tadi.
Tampak yang ditanya hanya senyum. Tak kuasa untuk menjawab sejujurnya. Selidik punya selidik, ternyata yang ditanya belum dikaruniai keturuan setelah menikah selama 9 tahun.
Untung saja ada anak kecil dalam angkot itu mengalihkan perhatian yang bertanya. Sehingga pertanyaan tak berlanjut.
"Ma, mimik", pinta bocah kecil.
Si Ibu muda mengeluarkan sebuah botol susu kecil dengan tutup berwarna kebiruan. Kemudian menyerahkan kepada si Bocah. Saat botol susu tersebut ada di genggamannya si Bocah seakan menemukan kedamaian dalam hidupnya.
"Ma", ucap si Bocah.
Si Ibu menggendong anaknya. Seakan tau betul apa yang diinginkan anaknya. Ia peluk anaknya. Tak lama kemudian tampak mata si Bocah terpejam dan tertidur.
"Siko ciek, Da", ucapku pada supir angkot.
Angkot yang aku tumpangi berhenti. Kemudian membayar ongkos dengan uang pas. Karena di pintu angkot tertera sebuah pengumuman, "Bayarlah dengan uang pas". Aku mah orangnya taat aturan.
_Ihaaaaa_
Asi membelai botol. Semoga semua ibu2 di dunia ini bisa tetap mengisi botol dengan air asinya. Bukan asi buatan. Kecuali karena ulah atau sebab tertentu yang tak bisa ditoleransi.
Sehat selalu ya buibu❤❤❤
#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
Air Liur Menyapu Lantai
*Tugas (6)*
*Air Liur Menyapu Bantal*
*By Noer*
Hari ini kelas JW45 akan dimulai. " jam 20.02 ya. siapkan batery dan mentalmu", sapa Coach tadi malam.
Kalo ada yang bilang gen JeWe itu keras kepala, akulah salah satunya. Kenapa tidak! Sekali dua kali tak cukup bagiku untuk berjuang dan bersua Coach. Mungkin akan berlanjut ke tahap selanjutnya.
_Keras kepala atau lamban?_
_Entahlah..._
Yang pasti aku ketagihan. Kecanduan lebih tepatnya.
Dari dulu aku emang paling suka menulis dan membaca. Namun, bukan segila dan semabuk sekarang. Tak pernah diri ini menduga akan seperti ini akhirnya.
_Zzzz_
_Zzzz_
Terdengar suara dengkuran di sebelahku. Rupanya dek Qiana tertidur pulas ditemani boneka Babi kesayangannya.
_Eits_
Ada aliran sungai dadakan mengalir di sisi bonekanya.
_"Awas, banjir!_
Terlihat jelas wajah tenang tanpa dosa. Adem dan menyejukkan.
Aku tersenyum menyaksikan raut muka dek Qiana. Betapa bahagiamu, Nak. Sebahagia ketika ibuk berada di kelas JeWe.
_"Yakin bahagia?"_ tanya teko dari atas meja.
_"Yakin dong, JeWe gitu",_ jawabku dengan semangat.
Yang aku tau, aku yakin bisa. Walau sebenarnya aku masih berpacu mengulik ide yang sesekali masih tidur pulas sambil ngorok.
_Khkhkh_
_Khkhkh_
Namun semangat belajarku takkan pernah surut. Seperti surutnya air liur saat terbangun.
_"Mulai hari ini kuyakinkan diri ini, atas ijinNya tulisanku akan selalu dirindukan pembaca."_
_Sudah kategori affirmasikah?"_
_Kuikhlaskan diri ini menjadi penulis hebat yang tulisannya selalu ditunggu pembaca._
_Amiin Allahumma Aamiin..._
*Semangat menuju kelas 45*
#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
*Air Liur Menyapu Bantal*
*By Noer*
Hari ini kelas JW45 akan dimulai. " jam 20.02 ya. siapkan batery dan mentalmu", sapa Coach tadi malam.
Kalo ada yang bilang gen JeWe itu keras kepala, akulah salah satunya. Kenapa tidak! Sekali dua kali tak cukup bagiku untuk berjuang dan bersua Coach. Mungkin akan berlanjut ke tahap selanjutnya.
_Keras kepala atau lamban?_
_Entahlah..._
Yang pasti aku ketagihan. Kecanduan lebih tepatnya.
Dari dulu aku emang paling suka menulis dan membaca. Namun, bukan segila dan semabuk sekarang. Tak pernah diri ini menduga akan seperti ini akhirnya.
_Zzzz_
_Zzzz_
Terdengar suara dengkuran di sebelahku. Rupanya dek Qiana tertidur pulas ditemani boneka Babi kesayangannya.
_Eits_
Ada aliran sungai dadakan mengalir di sisi bonekanya.
_"Awas, banjir!_
Terlihat jelas wajah tenang tanpa dosa. Adem dan menyejukkan.
Aku tersenyum menyaksikan raut muka dek Qiana. Betapa bahagiamu, Nak. Sebahagia ketika ibuk berada di kelas JeWe.
_"Yakin bahagia?"_ tanya teko dari atas meja.
_"Yakin dong, JeWe gitu",_ jawabku dengan semangat.
Yang aku tau, aku yakin bisa. Walau sebenarnya aku masih berpacu mengulik ide yang sesekali masih tidur pulas sambil ngorok.
_Khkhkh_
_Khkhkh_
Namun semangat belajarku takkan pernah surut. Seperti surutnya air liur saat terbangun.
_"Mulai hari ini kuyakinkan diri ini, atas ijinNya tulisanku akan selalu dirindukan pembaca."_
_Sudah kategori affirmasikah?"_
_Kuikhlaskan diri ini menjadi penulis hebat yang tulisannya selalu ditunggu pembaca._
_Amiin Allahumma Aamiin..._
*Semangat menuju kelas 45*
#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
Rabu, 12 Juni 2019
Air Mata Mengusir Handuk
*Air Mata Mengusir Handuk*
*By Noer*
Tak pernah terpikir dan terbayangkan akan sampai ke tahap ini. Hingga semua yang ada bisa menjadi sebuah tulisan.
Seperti pola atau tips yang pernah dituangkan guruku kedalam ember ideku.
*Tips Anti Mentok atau Buntu* 21 benda cair yang ada dalam diri. Pernah kebayang ngg air mata mengusir handuk? Ini hanya ada di kelas JeWe.
“Bu Noer, kenapa idemu aneh2 begitu?" Tanya salah seorang temanku.
Aku relakan diri ini menulis setiap hari dengan enjoy dan bahagia. Dengan ijin Allah semoga disukai dan dirindukan pembaca.
Mereka para kengkawan mulai melirik dan singgah di wall fbku. Seperti menonton panjat pinang di hari raye. Rame dan ditingkahi suara pekikan semangat.
“Aku juga tak kalah rame. Maunya jempol seksi ini goyang terus. Rasa minder dah mulai mundur selangkah demi selangkah. PeDe aja kalii...
_Aduhhh_
Seekor semut menggigit jari kelingkingku. Rupanya aku dari tadi duduk bersandar dekat lalu lintas si Semut.
Apa aku akan berhenti sampai di sini? No...no.... no.... walau gatal di jari tak bisa kompromi. Menulis tetap lanjutkan.
_Lanjutkan?_
Cukup satu periode. Karena dunia semakin edan. Jangan serakah!
“Merasa mampu?” tanyaku. Namun gambar di dinding seolah tak mau menjawab.
_sudah_
_sudah_
Dari pada mikirin yang ngg jelas. Baiknya nulis nulis and nulis. Terlalu banyak mikir ntar idenya parkir. Lama2 bisa terkilir atuh!
"Tapi aku nggak bisa nulis", terdengar suara kemalasan merayuku.
"Maaf coy. Aku bukan yang dulu lagi. Sekarang dah beda. Mulai hari ini, aku ikhlaskan diri ini menulis dengan bahagia. Dengan izin Allah, aku akan menjadi penulis yang tulisannya laris and bestseller tentunya.
"Cerdasss", ucap sebuah suara.
"Lantas, gimana cara memulainya. Ngg ada ide. Ntar dibilang jelek. Ngg nyambung?", lagi2 suara kemalasan menggodaku.
Antrian panjang alasan menyerangku. Bagaimana cara melawan ketakutan dan kecemasan itu?
_Hmmmmm ...._
Justru ketakutan dan kecemasan itu bisa menjadi sebuah tulisan. Klw ngg ada jelek mana ada bagusnya. Hi hi...
Ternyata menulis tak sesulit yang dibayangkan. Asi saja bisa menjadi sebuah tulisan yang ciamik. Kalau ngg percaya baca tulisan mba @Nursih Hariani dengan judul *Asi Menulis Wajan*
Ada pembelajaran di sana agar seorang ibu menyapih anaknya selama dua tahun. Jangan buru2 dikenalin dengan susu formula.
Uni @dr. Darmanelly juga mengupas lebih dalam melaui ilmu kesehatan. Masih ragu dengan efek virus JeWe? Sungguh terlalu... padahal baru pemanasan lho!
"Antusias banget, Uni", tanya bantal guling di sampingku.
"Iya dong.", jawabku yakin.
“Mantab. Lanjutkan".
_Ha...ha...ha...._
"Sampai berapa kali?"
"Sampai Coach bosan", jawabku sekenanya.
_Tara....._
_36 43 45_
“Apa hubungannya? Nomor buntut ya?
Nggak usah dipikirin. Biar dia nyari cara sendiri agar nyambung.
_Edan_
Maaf sobat. Nulis ala JeWe itu suka suka. Mau dari yang manis, pahit, asem atau asin boleh. Dicampur jadi nano2 juga boleh. Yang penting *bahagia*
Lalu, apa hubungannya dengan *air mata mengusir handuk?*
Tak perlu handuk bro. Biarkan ia meleleh. Karena itu air mata bahagia.
#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#Virusbahagia
*By Noer*
Tak pernah terpikir dan terbayangkan akan sampai ke tahap ini. Hingga semua yang ada bisa menjadi sebuah tulisan.
Seperti pola atau tips yang pernah dituangkan guruku kedalam ember ideku.
*Tips Anti Mentok atau Buntu* 21 benda cair yang ada dalam diri. Pernah kebayang ngg air mata mengusir handuk? Ini hanya ada di kelas JeWe.
“Bu Noer, kenapa idemu aneh2 begitu?" Tanya salah seorang temanku.
Aku relakan diri ini menulis setiap hari dengan enjoy dan bahagia. Dengan ijin Allah semoga disukai dan dirindukan pembaca.
Mereka para kengkawan mulai melirik dan singgah di wall fbku. Seperti menonton panjat pinang di hari raye. Rame dan ditingkahi suara pekikan semangat.
“Aku juga tak kalah rame. Maunya jempol seksi ini goyang terus. Rasa minder dah mulai mundur selangkah demi selangkah. PeDe aja kalii...
_Aduhhh_
Seekor semut menggigit jari kelingkingku. Rupanya aku dari tadi duduk bersandar dekat lalu lintas si Semut.
Apa aku akan berhenti sampai di sini? No...no.... no.... walau gatal di jari tak bisa kompromi. Menulis tetap lanjutkan.
_Lanjutkan?_
Cukup satu periode. Karena dunia semakin edan. Jangan serakah!
“Merasa mampu?” tanyaku. Namun gambar di dinding seolah tak mau menjawab.
_sudah_
_sudah_
Dari pada mikirin yang ngg jelas. Baiknya nulis nulis and nulis. Terlalu banyak mikir ntar idenya parkir. Lama2 bisa terkilir atuh!
"Tapi aku nggak bisa nulis", terdengar suara kemalasan merayuku.
"Maaf coy. Aku bukan yang dulu lagi. Sekarang dah beda. Mulai hari ini, aku ikhlaskan diri ini menulis dengan bahagia. Dengan izin Allah, aku akan menjadi penulis yang tulisannya laris and bestseller tentunya.
"Cerdasss", ucap sebuah suara.
"Lantas, gimana cara memulainya. Ngg ada ide. Ntar dibilang jelek. Ngg nyambung?", lagi2 suara kemalasan menggodaku.
Antrian panjang alasan menyerangku. Bagaimana cara melawan ketakutan dan kecemasan itu?
_Hmmmmm ...._
Justru ketakutan dan kecemasan itu bisa menjadi sebuah tulisan. Klw ngg ada jelek mana ada bagusnya. Hi hi...
Ternyata menulis tak sesulit yang dibayangkan. Asi saja bisa menjadi sebuah tulisan yang ciamik. Kalau ngg percaya baca tulisan mba @Nursih Hariani dengan judul *Asi Menulis Wajan*
Ada pembelajaran di sana agar seorang ibu menyapih anaknya selama dua tahun. Jangan buru2 dikenalin dengan susu formula.
Uni @dr. Darmanelly juga mengupas lebih dalam melaui ilmu kesehatan. Masih ragu dengan efek virus JeWe? Sungguh terlalu... padahal baru pemanasan lho!
"Antusias banget, Uni", tanya bantal guling di sampingku.
"Iya dong.", jawabku yakin.
“Mantab. Lanjutkan".
_Ha...ha...ha...._
"Sampai berapa kali?"
"Sampai Coach bosan", jawabku sekenanya.
_Tara....._
_36 43 45_
“Apa hubungannya? Nomor buntut ya?
Nggak usah dipikirin. Biar dia nyari cara sendiri agar nyambung.
_Edan_
Maaf sobat. Nulis ala JeWe itu suka suka. Mau dari yang manis, pahit, asem atau asin boleh. Dicampur jadi nano2 juga boleh. Yang penting *bahagia*
Lalu, apa hubungannya dengan *air mata mengusir handuk?*
Tak perlu handuk bro. Biarkan ia meleleh. Karena itu air mata bahagia.
#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#Virusbahagia
Air Seni Mendobrak Ember
*Air Seni Mendobrak Ember*
*By Noer*
"Jika ingin bahagia di dunia tuntutlah ilmu. Jika ingin bahagia di akhirat tuntutlah ilmu. Jika ingin kedua2nya juga tuntutlah ilmu. Lalu, kenapa kau masih termangu?
Tampak dari jendela kaca Syarif buru2 berjalan menuju kelas. Teman2nya sudah 30 menit yang lalu mengikuti ujian. Ia terlambat.
"Syarif,, kenapa terlambat? Aku menyapanya penuh selidik.
Sejenak Syarif tertegun sebelum sampai di kursi tempat duduknya. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu. Jemarinya tampak mรจremas2 tali tas sandangnya.
"Mmmaaf, Bu." Sahut Syarif agak gugup.
"Yup, silakan dimulai ujiannya!" Pintaku padanya.
Aku sibuk di depan mengisi lembaran blangko berita acara dan blanko daftar hadir. Semua siswa hanyut dengan lembaran soal yang dibagikan. Sesekali terdengar batuk2 kecil dari peserta ujian.
_Uhuk_
_Uhuk_
"Kenapa, kamu kurang sehat?"
"Iya, Bu."
"Jangan banyak minum sirup dan kue lebarannya. Kalau kebanyakan bagi dong. He....", candaku pada salah seorang siswaku.
_He_
_He_
"Ibu mau?"
"Nggak. Nggak bakalan nolak jika dikasih."
_Udah_
_Udah_
"Lanjutkan ujiannya. Waktu tinggal 30 menit lagi", aku memperingatkan mereka.
Tiba tiba terdengar suara benda jatuh.
_Plakkk..._
Aku menebarkan pandangan ke setiap sudut kelas mencari sumber suara tersebut. Pandanganku terhenti di meja Syarif. Tampak ia kasak kusuk membereskan isi tasnya yang tumpah ke lantai.
"Syarif, ...." panggilku.
"Kenapa denganmu?" Tanyaku heran.
Syarif hanya menggeleng. Aku mendekati mejanya. Belum satupun LJK yang dihitamkannya. Sementara waktu tinggal 30 menit lagi.
"Ada apa denganmu Syarif?" Tanyaku pelan.
Akhirnya, Syarif mebuka suaranya.
Syarif menjelaskan, bahwa ia semalam tak belajar. Tak ada sedikitpun ia mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan semester hari ini. Karena ia harus menanggung sakitnya perut yang disertai diare. Wajahnya tampak pucat dan kuyu.
"Sudah. Sekarang kau temui guru bidang studi yang bersangkutan dan minta ujian susulan".
"Baik, Bu", jawabnya pasrah sambil berkemas2.
_Acinnn_
_Acinnn_
Tiba tiba dari arah depan terdengar suara bersin berturut-turut. Suasana ulangan semester di ruanga 14 sedikit terganggu. Beberapa orang siswa terganggu kesehatannya.
Mereka para siswa harus segera kembali ke sekolah setelah baru saja menikmati liburan Idul Fitri. Karena ulangan kenaikan kelas juga menanti.
"Aduh, aku nggak bisa nahan lagi", suara Michael memecah keheningan.
Ia berlari secepat kilat menuju kamar mandi di sudut perpustakaan sekolah.
_Plakkkk..._
Ember dekat pintu jadi sasaran. Ujung sepatu Michael tak sengaja menendang ember berwarna hijau. Dan menghalangi langkahnya.
Karena terburu2 tumit Syarif secara spontan menendang ember itu ke arah belakang.
_Tuntang_
_Gedubrakkk..._
Ember kembali berguling dan memantul kembali ke arah klosed.
"Diam di situ, jangan bawel!"pinta Michael kepada ember.
Akhirnya Michael dengan tenang bisa melepas kegundahanya di ruangan sempit berukuran 3 bidang keramik itu. Langit2 bercat putih dan dinding didominasi warna hijau langit.
"Emang warna langit hijau?"
"Entahlah. Kata nenekku begitu." Semua warna itu hijau. Hijau langit. Hijau terong.
"Hijau pucuk kaleee...."
_Ha_
_Ha_
#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
*By Noer*
"Jika ingin bahagia di dunia tuntutlah ilmu. Jika ingin bahagia di akhirat tuntutlah ilmu. Jika ingin kedua2nya juga tuntutlah ilmu. Lalu, kenapa kau masih termangu?
Tampak dari jendela kaca Syarif buru2 berjalan menuju kelas. Teman2nya sudah 30 menit yang lalu mengikuti ujian. Ia terlambat.
"Syarif,, kenapa terlambat? Aku menyapanya penuh selidik.
Sejenak Syarif tertegun sebelum sampai di kursi tempat duduknya. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu. Jemarinya tampak mรจremas2 tali tas sandangnya.
"Mmmaaf, Bu." Sahut Syarif agak gugup.
"Yup, silakan dimulai ujiannya!" Pintaku padanya.
Aku sibuk di depan mengisi lembaran blangko berita acara dan blanko daftar hadir. Semua siswa hanyut dengan lembaran soal yang dibagikan. Sesekali terdengar batuk2 kecil dari peserta ujian.
_Uhuk_
_Uhuk_
"Kenapa, kamu kurang sehat?"
"Iya, Bu."
"Jangan banyak minum sirup dan kue lebarannya. Kalau kebanyakan bagi dong. He....", candaku pada salah seorang siswaku.
_He_
_He_
"Ibu mau?"
"Nggak. Nggak bakalan nolak jika dikasih."
_Udah_
_Udah_
"Lanjutkan ujiannya. Waktu tinggal 30 menit lagi", aku memperingatkan mereka.
Tiba tiba terdengar suara benda jatuh.
_Plakkk..._
Aku menebarkan pandangan ke setiap sudut kelas mencari sumber suara tersebut. Pandanganku terhenti di meja Syarif. Tampak ia kasak kusuk membereskan isi tasnya yang tumpah ke lantai.
"Syarif, ...." panggilku.
"Kenapa denganmu?" Tanyaku heran.
Syarif hanya menggeleng. Aku mendekati mejanya. Belum satupun LJK yang dihitamkannya. Sementara waktu tinggal 30 menit lagi.
"Ada apa denganmu Syarif?" Tanyaku pelan.
Akhirnya, Syarif mebuka suaranya.
Syarif menjelaskan, bahwa ia semalam tak belajar. Tak ada sedikitpun ia mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan semester hari ini. Karena ia harus menanggung sakitnya perut yang disertai diare. Wajahnya tampak pucat dan kuyu.
"Sudah. Sekarang kau temui guru bidang studi yang bersangkutan dan minta ujian susulan".
"Baik, Bu", jawabnya pasrah sambil berkemas2.
_Acinnn_
_Acinnn_
Tiba tiba dari arah depan terdengar suara bersin berturut-turut. Suasana ulangan semester di ruanga 14 sedikit terganggu. Beberapa orang siswa terganggu kesehatannya.
Mereka para siswa harus segera kembali ke sekolah setelah baru saja menikmati liburan Idul Fitri. Karena ulangan kenaikan kelas juga menanti.
"Aduh, aku nggak bisa nahan lagi", suara Michael memecah keheningan.
Ia berlari secepat kilat menuju kamar mandi di sudut perpustakaan sekolah.
_Plakkkk..._
Ember dekat pintu jadi sasaran. Ujung sepatu Michael tak sengaja menendang ember berwarna hijau. Dan menghalangi langkahnya.
Karena terburu2 tumit Syarif secara spontan menendang ember itu ke arah belakang.
_Tuntang_
_Gedubrakkk..._
Ember kembali berguling dan memantul kembali ke arah klosed.
"Diam di situ, jangan bawel!"pinta Michael kepada ember.
Akhirnya Michael dengan tenang bisa melepas kegundahanya di ruangan sempit berukuran 3 bidang keramik itu. Langit2 bercat putih dan dinding didominasi warna hijau langit.
"Emang warna langit hijau?"
"Entahlah. Kata nenekku begitu." Semua warna itu hijau. Hijau langit. Hijau terong.
"Hijau pucuk kaleee...."
_Ha_
_Ha_
#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
Air Ketuban Menghantam Lantai
"Air Ketuban Menghantam Lantai"
By Noer
"Kenapa dia belum juga pulang?" Tanya Pipit berkali-kali.
"Hmmm... "
Rasa khawatir mulai bersarang dalam kepala Pipit. Semenjak pagi ia menunggu kedatangan suaminya, sampai tengah malam begini belum juga ada tanda-tanda langkah mendekati teras rumahnya.
Pipit semakin bertanya-tanya dalam hati.
"Ayo tidur, Bu." Terdengar bisik mesra dari dalam rahimnya.
Pipit mengelus perutnya. Karena di rahimnya bersarang seorang pangeran kecil. Yang insyaallah akan menjadi penyemangat dalam hidupnya.
"Assalamu’alaikum..."
Terdengar di luar seseorang mengucap salam sambil mengetok pintu. Namun suara itu kurang jelas. Karena ditingkahi suara rintik hujan.
"Wa'alaikumussalaam." Sahut Pipit. Kemudian ia bangkit dari duduknya. Dan berdiri menuju pintu depan.
Meongggg
Meongggg
Suara kucing kesayangan pipit menghentikan langkahnya sejenak. Sepertinya ia berusaha menghalangi Pipit membuka pintu.
"Awas, ntar ke injak", seru Pipit. Karena ia terus menggosok-gosokkan badanya ke kaki pipit. Membuat langkah Pipit sedikit terganggu.
Sampai di depan pintu, Pipit menarik gagang pintu, dan pintu pun terbuka. Ternyata benar, orang yang berdiri di luar bukan suaminya. Tetapi adik laki-lakinya yang baru saja pulang dari lapau. Seketika wajah Pipit tampak kecewa.
Grrrr...
Grrrr...
Grrrr...
"Dingin." Sambil menyelonong masuk.
Sementara Pipit masih bengong berdiri di pintu. Ia longokkan kepalanya keluar, berharap suaminya menampakkan puncak hidungnya.
Duarrr...
Duarrr...
Suara petir terdengar menggelegar.
"Tutup pintu, Uni." Sorak adik Pipit dari dalam.
"Ya"
Pipit menutup pintu. Walau sebenarnya ia masih ingin menunggu kedatangan suaminya. Pipit semakin menyelam ke dalam kegalauan.
Ting tong
Ting tong
Suara notifikasi hp menyadarkan lamunan Pipit.
Pipit menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan. Kemudian duduk di sofa sambil mengelus layar hp.
Sebuah pesan dari group SMA. Lagi-lagi pipit menelan ludah kekecewaan. Tampak Pipit tak bisa menahan diri lagi. Ia beranikan diri untuk menelpon.
Tut
Tut
Tut
Tak ada sambungan. Sepertinya nomor yang dituju tak bisa dihubungi. "Mungkin ada gangguan signal, karena di luar hujan." Pipit masih berpikiran positif.
Berbagai pertanyaan menghujam pikiran Pipit. Pipit terlihat semakin gelisah.
Pikirannya berkelana ke mana-mana.
Ia melukiskan isi hatinya di lantai sambil menggerak-gerakkan jempol kakinya.
"Kacauuu...!!!"
Pipit mulai kasak-kusuk. Mengira-ngira apa yang membuat suaminya belum juga pulang. Meraba-raba pertanyaan demi pertanyaan. Namun jawabannya tak kunjung ditemui.
"Hufff..."
Terdengar suara pasrah dari mulut Pipit. Seolah sangat menusuk-nusuk ulu hatinya.
Matanya mulai berkaca-kaca. Nafasnya sedikit tak beraturan.
Pipit terlihat kebingungan. Ia terperangah. Butiran bening mulai mengucur di sudut matanya. Tak sanggup lgi membendung air matanya yang menganak sungai.
"Kondisi bunting seperti ini, kau tega meninggalkanku", Pipit membatin.
Kabut di wajah Pipit perlahan semakin menebal.
Dia mulai tak bisa mengendalikan emosi.
Perut Pipit seakan ikut merasakan apa yang dirasakannya. Ada semacam reaksi yang dikirim bayi dalam kandungannya juga ikut meronta.
"Aduhhh..."
Ia menendang. Pipit meringis kesakitan.
"Kenapa, Kak?" Tanya adik bungsunya.
"Perut kakak sakit",
"Jangan, jangan...?"
"Maaaak, Kakak mau melahirkan", sorak adik bungsu Pipit.
=======
Di ruangan 3 x 4 meter, bercat putih dan gorden berwarna hijau, perjuangan pipit bersama pangerannya berhasil.
Oeeek
Oeeek
Oeeek
....
....
....
#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
By Noer
"Kenapa dia belum juga pulang?" Tanya Pipit berkali-kali.
"Hmmm... "
Rasa khawatir mulai bersarang dalam kepala Pipit. Semenjak pagi ia menunggu kedatangan suaminya, sampai tengah malam begini belum juga ada tanda-tanda langkah mendekati teras rumahnya.
Pipit semakin bertanya-tanya dalam hati.
"Ayo tidur, Bu." Terdengar bisik mesra dari dalam rahimnya.
Pipit mengelus perutnya. Karena di rahimnya bersarang seorang pangeran kecil. Yang insyaallah akan menjadi penyemangat dalam hidupnya.
"Assalamu’alaikum..."
Terdengar di luar seseorang mengucap salam sambil mengetok pintu. Namun suara itu kurang jelas. Karena ditingkahi suara rintik hujan.
"Wa'alaikumussalaam." Sahut Pipit. Kemudian ia bangkit dari duduknya. Dan berdiri menuju pintu depan.
Meongggg
Meongggg
Suara kucing kesayangan pipit menghentikan langkahnya sejenak. Sepertinya ia berusaha menghalangi Pipit membuka pintu.
"Awas, ntar ke injak", seru Pipit. Karena ia terus menggosok-gosokkan badanya ke kaki pipit. Membuat langkah Pipit sedikit terganggu.
Sampai di depan pintu, Pipit menarik gagang pintu, dan pintu pun terbuka. Ternyata benar, orang yang berdiri di luar bukan suaminya. Tetapi adik laki-lakinya yang baru saja pulang dari lapau. Seketika wajah Pipit tampak kecewa.
Grrrr...
Grrrr...
Grrrr...
"Dingin." Sambil menyelonong masuk.
Sementara Pipit masih bengong berdiri di pintu. Ia longokkan kepalanya keluar, berharap suaminya menampakkan puncak hidungnya.
Duarrr...
Duarrr...
Suara petir terdengar menggelegar.
"Tutup pintu, Uni." Sorak adik Pipit dari dalam.
"Ya"
Pipit menutup pintu. Walau sebenarnya ia masih ingin menunggu kedatangan suaminya. Pipit semakin menyelam ke dalam kegalauan.
Ting tong
Ting tong
Suara notifikasi hp menyadarkan lamunan Pipit.
Pipit menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan. Kemudian duduk di sofa sambil mengelus layar hp.
Sebuah pesan dari group SMA. Lagi-lagi pipit menelan ludah kekecewaan. Tampak Pipit tak bisa menahan diri lagi. Ia beranikan diri untuk menelpon.
Tut
Tut
Tut
Tak ada sambungan. Sepertinya nomor yang dituju tak bisa dihubungi. "Mungkin ada gangguan signal, karena di luar hujan." Pipit masih berpikiran positif.
Berbagai pertanyaan menghujam pikiran Pipit. Pipit terlihat semakin gelisah.
Pikirannya berkelana ke mana-mana.
Ia melukiskan isi hatinya di lantai sambil menggerak-gerakkan jempol kakinya.
"Kacauuu...!!!"
Pipit mulai kasak-kusuk. Mengira-ngira apa yang membuat suaminya belum juga pulang. Meraba-raba pertanyaan demi pertanyaan. Namun jawabannya tak kunjung ditemui.
"Hufff..."
Terdengar suara pasrah dari mulut Pipit. Seolah sangat menusuk-nusuk ulu hatinya.
Matanya mulai berkaca-kaca. Nafasnya sedikit tak beraturan.
Pipit terlihat kebingungan. Ia terperangah. Butiran bening mulai mengucur di sudut matanya. Tak sanggup lgi membendung air matanya yang menganak sungai.
"Kondisi bunting seperti ini, kau tega meninggalkanku", Pipit membatin.
Kabut di wajah Pipit perlahan semakin menebal.
Dia mulai tak bisa mengendalikan emosi.
Perut Pipit seakan ikut merasakan apa yang dirasakannya. Ada semacam reaksi yang dikirim bayi dalam kandungannya juga ikut meronta.
"Aduhhh..."
Ia menendang. Pipit meringis kesakitan.
"Kenapa, Kak?" Tanya adik bungsunya.
"Perut kakak sakit",
"Jangan, jangan...?"
"Maaaak, Kakak mau melahirkan", sorak adik bungsu Pipit.
=======
Di ruangan 3 x 4 meter, bercat putih dan gorden berwarna hijau, perjuangan pipit bersama pangerannya berhasil.
Oeeek
Oeeek
Oeeek
....
....
....
#JeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
Darah Menyerang Pisau
*Darah Menyerang Pisau*
*By Noer*
Apa yang terlintas dalam pikiranmu, ketika mendengar kata darah dan pisau?
_Takut?_
_Ngeri?_
_Atau Seram?_
Mana yang lebih menakutkan dari kehilangan seseorang yang dicintai? Atau lebih ngeri dari dikejar angsa betina. Bahkan lebih seram dari lolongan anjing tengah malam.
_Auuuuuuuu..._
_Auuuuuuuu..._
Merahnya darah semakin kian nyata. Memancar ke langit biru dan memantul ke akar bumi. Aroma anyirnya menyeruak ke seluruh bumi pertiwi.
"Kenapa bumi pertiwi sampai menangis darah Tek Nun?" tanya semut merah.
Tek Nun diam seribu bahasa. Ia mendengar dengan jelas pertanyaan si Semut. Tapi ia tak bisa menjelaskan dengan gamblang. Takut di bilang menyebarkan hoax.
"Aduhhh", Tek Nun melonjak kesakitan. Rupanya peluru tepat mendarat di dadanya. Ia masih setengah sadar. Ia raba dari balik baju. Ia temukan sebuah anak peluru. Kemudian ia tarik keluar. Ia perhatikan dengan kaca matanya. Rupanya Si Semut.
" Hai Semut. Apa maksudmu menggigitku?
"Maaf Tek Nun. Memang aku sengaja".
"Maksudmu?"
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku", jawab disemut dengan wajah serius.
Kepo...
Setelah seminggu kejadian berdarah itu, Tek Nun masih mencium aroma. Aroma yang begitu kuat. Hingga merontokkan beberapa helai bulu hidung.
Sekuat dan seserakah itukah nafsu hingga sulit sekali mengatakan yang sebenarnya. Sanggupkah dia berlam-lama menyembunyikan kejujuran?
_Entahlah..._
Bacaan takbir menggema mengiringi doa kejujuran. Walau sulit, mereka tetap bertahan. Walau percikan gas beracun dari mulut berbisa ular menyerang mereka..
Malam hari gema takbir masih sama seperti siang. Pekikan kejujuran terdengar begitu lantang. Namun, apakah kebohongan akan mengalah?
Tidakkk...
Malahan semakin beringas. Darah mulai menetes setetes dua tetes. Hingga mengalir menganak sungai.
Siapa korbannya? Siapa lagi kalau bukan di pihak jujur.
Kepala mulai terasa lebih berat. Aku tak sanggup menyaksikan. Kudekap doaku dalam doa, semoga yang kuasa menunjukkan kekuasaanNya.
"Uggghhh.. seperti hidup dinegara konflik. Efek bila nafsu telah membelenggu diri." batinku
"Hari ini jangan nonton dulu, Ya!" Suami Tek Nun mengingatkan. Ia mengangguk tanda setuju. Tapi memperlihatkan mimik khawatir.
"Mengapa hidup tak bebas bergerak seperti dulu lagi? Semua diatur. Sampai-sampai untuk komunikasi dengan lokal Jewe 45 saja dilarang", Tek Nun mulai emosi.
Tak adakah bersarang rasa malu di dada mereka? Tek Nun kian memerah wajahny menahan amarah.
Tiba tiba terdengar suara memekakkan telinga.
_Duarrr...._
Tek Nun kaget bukan main. Rupanya balon yang ia belikan untuk anaknya kemaren meletus.
"Ha ha ha..."
Terdengar suaraa gelak tawa anak-anaknya dari ruang tamu. Ia bangkit dari depan tipi menuju sumber suara.
"Haduuh, dek mainnya hati-hati", tegurnya pada anak-anak.
Darah mulai protes. "Kenapa harus pakai senapan. Kalau berani coba pakai pisau dan bacakan _Bismillah_ ". Dengan begitu darahku halal bagimu.
_Pekikan suara kebenaran_
#belajarpolahipnotikJeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
*By Noer*
Apa yang terlintas dalam pikiranmu, ketika mendengar kata darah dan pisau?
_Takut?_
_Ngeri?_
_Atau Seram?_
Mana yang lebih menakutkan dari kehilangan seseorang yang dicintai? Atau lebih ngeri dari dikejar angsa betina. Bahkan lebih seram dari lolongan anjing tengah malam.
_Auuuuuuuu..._
_Auuuuuuuu..._
Merahnya darah semakin kian nyata. Memancar ke langit biru dan memantul ke akar bumi. Aroma anyirnya menyeruak ke seluruh bumi pertiwi.
"Kenapa bumi pertiwi sampai menangis darah Tek Nun?" tanya semut merah.
Tek Nun diam seribu bahasa. Ia mendengar dengan jelas pertanyaan si Semut. Tapi ia tak bisa menjelaskan dengan gamblang. Takut di bilang menyebarkan hoax.
"Aduhhh", Tek Nun melonjak kesakitan. Rupanya peluru tepat mendarat di dadanya. Ia masih setengah sadar. Ia raba dari balik baju. Ia temukan sebuah anak peluru. Kemudian ia tarik keluar. Ia perhatikan dengan kaca matanya. Rupanya Si Semut.
" Hai Semut. Apa maksudmu menggigitku?
"Maaf Tek Nun. Memang aku sengaja".
"Maksudmu?"
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku", jawab disemut dengan wajah serius.
Kepo...
Setelah seminggu kejadian berdarah itu, Tek Nun masih mencium aroma. Aroma yang begitu kuat. Hingga merontokkan beberapa helai bulu hidung.
Sekuat dan seserakah itukah nafsu hingga sulit sekali mengatakan yang sebenarnya. Sanggupkah dia berlam-lama menyembunyikan kejujuran?
_Entahlah..._
Bacaan takbir menggema mengiringi doa kejujuran. Walau sulit, mereka tetap bertahan. Walau percikan gas beracun dari mulut berbisa ular menyerang mereka..
Malam hari gema takbir masih sama seperti siang. Pekikan kejujuran terdengar begitu lantang. Namun, apakah kebohongan akan mengalah?
Tidakkk...
Malahan semakin beringas. Darah mulai menetes setetes dua tetes. Hingga mengalir menganak sungai.
Siapa korbannya? Siapa lagi kalau bukan di pihak jujur.
Kepala mulai terasa lebih berat. Aku tak sanggup menyaksikan. Kudekap doaku dalam doa, semoga yang kuasa menunjukkan kekuasaanNya.
"Uggghhh.. seperti hidup dinegara konflik. Efek bila nafsu telah membelenggu diri." batinku
"Hari ini jangan nonton dulu, Ya!" Suami Tek Nun mengingatkan. Ia mengangguk tanda setuju. Tapi memperlihatkan mimik khawatir.
"Mengapa hidup tak bebas bergerak seperti dulu lagi? Semua diatur. Sampai-sampai untuk komunikasi dengan lokal Jewe 45 saja dilarang", Tek Nun mulai emosi.
Tak adakah bersarang rasa malu di dada mereka? Tek Nun kian memerah wajahny menahan amarah.
Tiba tiba terdengar suara memekakkan telinga.
_Duarrr...._
Tek Nun kaget bukan main. Rupanya balon yang ia belikan untuk anaknya kemaren meletus.
"Ha ha ha..."
Terdengar suaraa gelak tawa anak-anaknya dari ruang tamu. Ia bangkit dari depan tipi menuju sumber suara.
"Haduuh, dek mainnya hati-hati", tegurnya pada anak-anak.
Darah mulai protes. "Kenapa harus pakai senapan. Kalau berani coba pakai pisau dan bacakan _Bismillah_ ". Dengan begitu darahku halal bagimu.
_Pekikan suara kebenaran_
#belajarpolahipnotikJeWe45
#bahagiadenganmenulis
#menulisitusedekah
#virusbahagia
Langganan:
Postingan (Atom)